Asian Games 2018 Nilai sejarah Berharga Bagi Indonesia

28 Sep 2018

Asian Games 2018, sebuah festival olahraga bertaraf International yang baru saja selesai 2 September 2018 lalu, mencatatkan nilai sejarah yang berharga bagi bangsa Indonesia. Indonesia berhasil menjadi juara ke 4 dalam festival olahraga ini dan mampu melampaui rekor dari tahun-tahun sebelumnya. Tapi tahukah kamu dibalik suksesnya Indonesia meraih posisi ke 4 ada banyak sekali atlit yang berjuang keras dalam membawa nama baik Indonesia, antara lain Lindswell Kwok dan Anthony Ginting. Siapakah mereka? Yuk simak!

EMAS TERAKHIR DARI LINDSWELL UNTUK INDONESIA

Lindswell Kwok, Atlet wushu kelahiran Medan, Sumatera Utara ini memang telah mencatat berbagai prestasi di berbagai kejuaraan nasional dan internasional. Kali ini ia  kembali mempersembahkan medali emas bagi Indonesia di ajang Asian Games 2018. Pewushu putri ini berhasil mencetak total nilai tertinggi, 19,5 dalam kategori taijiquan dan taijijian putri. Peraihan medali emas di Asian Games 2018 Jakarta-Palembang ini menjadi medali emas pertamanya di ajang ini, setelah sebelumnya meraih medali perak di Asian Games 2014 Incheon.

Kesuksesan Lindswell sendiri didukung oleh kehadiran sang kakak, Iwan Kwok. Menjadi salah satu pengurus Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI), Iwan menjadi sosok yang memperkenalkan seni bela diri tersebut kepada Lindswell. Atlet kelahiran 24 September 2991 ini juga sering memperhatikan actor Jackie Chan dan Jet Li.

Usai meraih medali emas di Asian Games 2018, wanita 26 tahun ini akan pensiun dari dunia Wushu. Ia mengaku akan menggunakan waktunya untuk istirahat dan menyembuhkan cedera yang dimilikinya.

TAHAN LARA DEMI PERJUANGAN ASA

Pebulutangkis Anthony Ginting sempat menjadi perbincangan masyarakat lewat pertarungan ketat pada final bulutangkis beregu putra Asian Games 2018 lalu. Demi mengharumkan nama bangsa, atlet kelahiran Cimahi ini harus menahan rasa sakit yang tidak terhingga di ujung set ke-3 ketika melawan China, Shi Yu Qi. Pada set pertama, Anthony berhasil mengalahkan lawannya dengan skor 21 – 14, namun set kedua justru dikunci oleh Shi Yu Qi, yang menyebabkan dimainkannya set ke-3. Di babak rubber game ini lah, Anthony mengalami kram di kaki kiri yang cukup parah sehingga membutuhkan bantuan medis. 

Kembali ke lapangan dengan kaki pincang dan kaki kanan yang tidak bisa ditekuk, pebulutangkis kelahiran 20 Oktober 1996 ini harus memaksakan dirinya untuk terus bertanding. Anthony kembali mendapatkan perawatan dikarenakan kondisinya yang memburuk, namun ia diberikan kartu kuning oleh wasit karena dianggap menunda pertandingan. Sempat meminta time out tapi ditolak, di kedudukan 20 – 21, Anthony, yang tidak lagi kuat menahan cedera terpaksa mengakhiri pertandingan. Walaupun tidak berhasil mempersembahkan medali emas bagi Indonesia, perjuangan dan semangat Anthony hingga titik akhir pertandingan patut diapresiasi.

Shi Yu Qi, sebagai lawan dari Indonesia pun memberikan rasa hormatnya. Di akhir pertandingan, Shi menghampiri dan menjabat tangan Anthony untuk memberikan support. Shi sendiri menghargai usaha dan semangat yang dimiliki Anthony dalam membanggakan Indonesia hingga akhir pertandingan. Dengan kondisi cedera yang cukup berat, pebulutangkis Indonesia ini harus ditandu keluar lapangan. Teriakan “Ginting Hebat” dari supporter Indonesia pun memenuhi seluruh penjuru Istora Senayan.